Sitemap
Agile
Product Management
Planning
Business Model Canvas
Framework

Business Model Canvas: Melihat Keseluruhan Bisnis Dalam Satu Papan

4 min readNov 11, 2022

--

Bagi seorang pebisnis sudah sepantasnya mempunyai keinginan yang baik bagi tumbuh kembang lini bisnis. Untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan sebuah perencanaan yang tersusun dan ringkas. Ada beberapa konsep bisnis yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, salah satu konsep populer yang sering diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan besar adalah Business Model Canvas ini mungkin terdengar sudah tidak asing lagi di telinga kita, tapi apakah kalian tahu seperti apa BMC ini diterapkan.

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang terkonsep sejak awal dan mengerti akan di bawa kemana bisnis ini

Pengertian Business Model Canvas

Business model canvas adalah sebuah kerangka manajemen yang dapat membantu untuk menjelaskan seperti apa bisnis ini akan berjalan. Sederhananya, BMC dilihat berdasarkan visual yang disajikan melalui kotak-kotak yang berisi masing-masing elemen. Seseorang yang melihat BMC akan dengan mudah menerjemahkan konsep dan ide bisnis apa yang akan dibawa oleh perusahaan ini.

Karena framework ini membuat efisien dalam meliat bisnis, dalam praktiknya ini sering kali dipakai untuk mengambil keputusan yang efektif.

Business model canvas diperkenalkan pada tahun 2005 oleh Alexander Osterwalder seorang entrepreneur asal Swiss. BMC diperkenalkan melalui sembilan elemen dengan fungsi yang saling terkait. Apa saja elemen itu?

Elemen Business Model Canvas

Press enter or click to view image in full size
Image by strategyzer on miro

BMC dituliskan dalam sebuah papan dengan sembilan kotak yang berisi elemen berikut:

1. Customer Segment (segmentasi konsumen)

Elemen pertama ini membahas mengenai seperti apa pelanggan yang akan membeli produk kita. Karena kemungkinan besar ketika kita tidak mengetahui pangsa pasar atau target pelanggan kita, produk yang sudah kita susun sedemikian rupa tidak akan laku di pasaran.

Untuk mengisi elemen ini kita harus detail dalam memvisualisasikan pelanggan kita, seperti pekerjaan, umur, jenis kelamin, domisili, tingkat pendidikan, pendapatan dan pengeluaran, dan lainnya.

2. Value Propositions (Nilai yang dapat dijual)

Apa yang akan kita tawarkan kepada pelanggan, bisa berupa hal yang berbeda dari pesaing atau hal yang unik yang belum pernah ada sebelumnya. Ini sangat penting untuk menunjang customer segment, karena value propositions bisa juga disebut jalan keluar yang pelanggan butuh kan dan alasan kenapa pelanggan menggunakan produk kita.

3. Channel (Saluran)

Channel merupakan sarana interaksi untuk menghubungkan pelanggan dengan produk kita. Biasanya channel bertujuan untuk promosi dan mengenalkan produk jauh lebih dekat. Seperti contoh sosial media yang sering kita gunakan sehari-hari dan website tempat produk kita dijual, kode referral juga termasuk ke dalam channel

Get Nurul Fatimah Azzahra’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

4. Customer Relationship (Hubungan konsumen)

Bagaimana caranya kita berkomunikasi dengan pelanggan. Seperti halnya channel, customer relationship juga menggunakan sosial media yang tepat sesuai dengan segmentasi pelanggan. Selain itu customer relationship juga menjelaskan bagaimana caranya kita membantu konsumen dalam menghadapi kendala dengan produk, hingga bagaimana caranya agar pelanggan terus membeli produk.

5. Revenue Streams (Sumber pendapatan)

Sumber pendapatan dari produk yang kita kelola. Dari mana saja suatu produk mendapatkan penghasilan, sebagai contoh Shopee. Shopee memiliki sumber pendapatan dari penjual yang menaruh barangnya di Shopee dengan pengenaan biaya admin pada setiap barang yang pajang.

Perusahaan juga dapat memasukkan pendanaan seperti modal ventura atau pendanaan lainnya.

6. Key Activities (Aktivitas yang dijalankan)

Key activities merupakan kegiatan yang bersinggungan dengan produk yang kita jual, untuk mencapai tujuan produk kita.

7. Key Resources (Sumber daya)

Agar kegiatan produk berjalan dengan baik, kita memerlukan sumber daya fit dengan produk yang dipasarkan. Ada banyak hal yang termasuk ke dalam sumber daya seperti, sumber daya manusia, gudang, merek dagang, dan lainnya.

8. Key Partners (Kerja sama)

Untuk memasarkan sebuah produk secara maksimal kita membutuhkan kerja sama dengan sumber daya lain (di luar perusahaan). Biasanya kerja sama berupa third party, seperti supplier, mitra bisnis atau perusahaan lain yang mendukung aktivitas bisnis kita.

9. Cost Structure (Biaya)

Elemen terakhir pada papan BMC adalah cost structure, di mana ini menjelaskan mengenai pengeluaran atau biaya apa saja yang diperlukan untuk merealisasikan value propositions. Kita perlu mengelola biaya secara efisien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, jika tidak akan terjadi risiko tinggi kerugian yang terjadi.

Contoh Business Model Canvas

Berikut contoh Business Model Canvas yang pernah Saya buat, ini Saya ambil dari platform Segari salah satu e-grocery start-up.

Press enter or click to view image in full size

Kesimpulan

Dalam berbisnis kita harus menyusun strategi dan konsep secara rinci, akan tetapi beberapa orang yang mempunyai kepentingan khusus dengan waktu yang sedikit membutuhkan gambaran rinci yang efektif dan efisien. Oleh karena itu kita membutuhkan Business model canvas dengan hanya satu papan kita dapat melihat keseluruhan bisnis yang di bangun.

Agile
Product Management
Planning
Business Model Canvas
Framework

--

--